Saya punya contoh kasus yang unik. Di sebuah rs di sebuah kota kecil di provinsi yang lumayan padat penduduk di negeri ini, tersebutlah seorang pasien tua yang divonis dokter harus menjalani operasi mata. Keluarga tidak mempunyai biaya cukup untuk operasi tersebut. Mendaftarlah mereka ke jaminan kesehatan negara, dengan tentunya membayar premi (yang ndilalah) paling murah dari paket2 yang ditawarkan. Ada paket kelas 1,2,3 dan mereka mengambil paket kelas 3, preminya Rp 25 ribu sebulan. proses klaim pun berjalan lancar,operasi berjalan sukses dan singkat kata pasien itu sembuh. Yang mencengangkan adalah, setelah pasien itu sembuh, keluarga berhenti membayar premi jaminan. Secara otomatis, kepesertaan mereka gugur. Saat ditanya mengapa mereka melakukan hal tersebut, jawabannya ringan saja "kalo nanti sakit lagi, ya daftar lagi, kalo sudah sembuh ya ga usa bayar lagi".
Dahsyat sekali mental warga negara ini. Saya tidak habis pikir, kalo ada 100 saja dalam setahun pasien yang mendapat tindakan operasi melakukan hal seperti ini (membayar premi beberapa bulan lalu setelah operasi tidak membayar premi lagi) entah dalam berapa tahun negara akan bangkrut.
Saya membayangkan pula, dalam beberapa tahun ke depan, berapa angka kesejahteraan yang akan tenaga kesehatan dapat. sistem paket ini (sejujurnya) membuat tenaga kesehatan harus berfikir licin. Dengan harga paket yang sudah ditetapkan, dengan beban sakit yang maksimal, tenaga kesehatan pada akhirnya "terpaksa" menggunakan amunisi obat dan tindakan yang minimal. Kenapa bs begitu? ya tentu saja, karena tenaga kesehatan mendapat bayaran di dalam paket, artinya jasa medis didapat dari sisa uang paket setelah dikurangi tarif tindakan, obat,ruangan dll. Pekerjaan dokter, perawat dll tercampur dengan profesi bankir, karena harus pintar2 menghitung sisa uang.
Inilah penyebut tanpa pembilang. Banyaknya penyebut yang harus ter"cover", tapi tidak cukup pembilang untuk dibagi. Sad, but it's true
Tidak ada komentar:
Posting Komentar